Saturday, September 25, 2010

PERSONA

Sesuai dengan judul blog ini.

Kadang-kadang apa yang terlihat dari luar ngga selalu sama dengan apa yang sebenarnya ada di dalam. Makanya akhirnya ada pepatah "Don't judge the book by its cover" karena yang baik belum tentu baik, dan yang buruk belum tentu buruk. Kadang orang yang memiliki persona dianggap munafik. Tapi liat lagi ke dalam diri kita masing-masing. Pandang sebuah kaca dan tanya pada sosok yang ada disana. "Apakah kamu memiliki persona?"

Jangan munafik lah, siapa yang ngga mau memberikan impresi pertama yang baik untuk orang yang baru dikenal? Justru tanpa persona yang indah, orang akan mikir dua kali untuk temenan sama kita. "Ih baru kenal udah ngeselin, gimana kalo udah deket?". "Duh ni orang rese banget sih, capek deket-deket sama dia".

Jadi, punya persona itu munafik, tapi ngga punya persona juga salah?

Menurut gw itu tergantung gimana kita memandang persona itu sendiri. Lagi-lagi perspektif. Gw pribadi tadinya menganggap orang dengan persona itu ya... Itu tadi. Munafik. Sependek itu pikiran gw kalo harus menjawab pertanyaan "menurut lo orang yang punya topeng itu gimana?". Tapi hari ini gw mendapatkan sesuatu yang membuka mata gw. Thanks to mata kuliah Presentation Skill di Prosesi kamaba psikologi UI 2010 yang mempertemukan gw dengan sesosok senior angkatan 2008, Kak Febri.

Singkat cerita, abis kelas Presentation Skill gw makan bareng di Takor FISIP UI sama Kak Febri, Ava dan Azizah. Disitu kita ngobrol-ngobrol banyak mengenai kuliah dan segala kesibukannya. Kak Febri juga cerita banyak ttg pengalaman2nya. Sampai pada suatu titik kita ngomongin bagaimana cara menarik perhatian lawan bicara dan menjadi orang baru yang akan disenangi oleh orang lain. Disini Kak Febri menjelaskan kalo ada beberapa cara untuk dapat menarik perhatian orang dan membuat mereka percaya pada kita. Itu point pertama. Setelah itu kita ngobrol-ngobrol lagi dan akhirnya ngebahas masalah senior di psikologi UI. FYI, di Psikologi UI itu ngga ada senioritas sama sekali. Berminat? Boleh dibuktikan sendiri ;) Gw Ava dan Azizah juga akhirnya mempertanyakan hal ini. Kak Febri mengiyakan kalo memang senior dan junior bisa sebegitu dekatnya. Tapi di akhir pembahasan Kak Febri bilang "Senior semuanya akan baik dan welcome kok kalo kalian butuh apa-apa. Tapi jangan sampe kelewatan. Gimanapun juga setiap orang punya persona, dan kita nggatau apa yang akan dilakuin orang lain kali mereka kurang suka sama kita".

Dari sini gw baru sadar. Hey, justru persona itu PENTING banget dalam menjalani kehidupan lo sehari-hari. Lo ngga bisa terus-menerus menerapkan konsep "be yourself" atau "teman yang baik adalah yang menerima apa adanya". Orang lain di sekitar lo itu juga manusia, yang punya harapan-harapan tertentu saat dia berinteraksi sama org lain. Kita hidup di dunia ini ngga sendirian, tapi rame-rame dan akan saling membutuhkan. Kalo kita dibenci sama orang sekitar kita, gimana mau punya temen? Contoh konkrit pentingnya persona? Interview kerja. Apa pewawancara mau nerima kita kalo kita nunjukin sifat asli kita yang cuek, berantakan, dan ngga suka jawab pertanyaan dari orang lain? Fail!

Intinya, kita justru harus punya persona. Untuk kebaikan kita sendiri dan orang lain. Masalah persona itu digunakan untuk nutup2in kelakuan asli temen kita yang sebenernya suka ngegosip yang ngga2 di belakang itu kembali ke mereka masing-masing aja. Mereka kan dikasih hati nurani untuk menilai mana yang salah dan mana yang bener. Kalo masih gitu juga, diemin aja, atau selesaiin masalahnya dengan asertif. Jangan rusak citra persona dengan kelakuan buruk manusia :)

No comments:

Post a Comment